Materi Wawancara Majalah

1) Apa yang melatarbelakangi anda terjun ke dalam dunia politik ?

Indonesia adalah negara besar yang masih berada dalam proses panjang keluar dari berbagai masalah yang melilitnya. Kemiskinan, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, kekerasan, korupsi, lemahnya sistem hukum, ketidak becusan birokrasi, buruknya kinerja wakil rakyat, kepemimpinan politik yang hanya memperkaya diri pribadi adalah segelintir dari sejumlah masalah yang membuat negara besar ini bisa turun kelas menjadi negara biasa-biasa saja. Tapi yang lebih penting lagi saya sadar; mengeluh, menghujat dan mengumpat saja tidak akan pernah membuat masalah-masalah berat tersebut teratasi. Sebagai warga negara yang bertanggung jawab saya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu secara nyata. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, tapi saya percaya terjun dalam dunia politik adalah salah satu upaya penting dan mendasar. Sebab wilayah politik adalah tempat kita semua secara bersama-sama bisa membuat keputusan, kebijakan dan aturan main yang menjadi langkah awal sistemik yang sangat krusial untuk mengenali persoalan-persoalan yang disebut di atas, merancang cara mengatasinya dan mengeksekusi upaya pengentasannya. Sebagai contoh masalah kemiskinan adalah masalah bagaimana kita menghasilkan dan mendistribusikan sumber daya. Produksi dan distribusi berkaitan dengan seperangkat aturan, regulasi, strategi, kebijakan dan program yang menyediakan kerangka ide, legal dan operasionalnya. Kemiskinan di desa, misalnya, karena keterpurukan sektor pertanian. Keterpurukan ini sangat dipengaruhi oleh kerangka besar bagaimana ekonomi Indonesia dibangun dan diarahkan untuk masa depan. Kerangka besar tersebut tak lain dari regulasi, strategi, kebijakan dan program pembangunan ekonomi. Artinya mengentaskan kemiskinan di pedesaan hanya bisa dilakukan dengan mengintervensi proses perumusan kebijakan di sektor ekonomi.
Terjun dalam dunia politik sudah tentu bukan pilihan yang mudah. Apalagi jika mempertimbangkan persepsi masyarakat yang selalu negatif tentang politik dan ketidakpercayaan yang sangat tinggi terhadap wakil rakyat. Tapi bagi saya justeru disinilah letak persoalan mendasarnya. Kita memerlukan politik untuk mengatasi semua persoalan yng saya sebutkan di atas. Hanya saja politik sudah terlanjur diperlakukan sebagai benda buruk yang sebaiknya jangan pernah disentuh. Karenanya, penting bagi saya untuk terjun ke dunia politik dan menunjukkan bahwa politik diperlukan dan tidak identik dengan hal-hal yang negatif. Tindakan ini mungkin beresiko tapi itu jauh lebih baik dari pada hanya menghabiskan waktu untuk mengeluh atau menghujat. Uniknya lagi, seringkali saya mendengar hujatan dengan nada yang sepertinya ingin mengatakan bahwa “kalau saja saya mau saya bisa mengatasinya”. Bagi saya cara berpikir dan nada bicara seperti itu hanya ungkapan orang yang sebetulnya tidak pernah beranjak dari kegiatan menghujat, mengkritik dan menyalah-nyalahkan dan mengira semua akan berubah menjadi baik dengan sendirinya.

2) Bagaimana gambaran kesibukan anda dalam dunia perpolitikan ?

Bagi saya politik adalah soal membuat keputusan dan kebijakan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak. Karena itu kesibukan utama saya ditujukan untuk memastikan rakyat, pembuat kebijakan dan proses pembuatan kebijakan bisa terkoneksi satu sama lain.
Dalam rangka melakukan itu, saat ini saya adalah salah satu Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Saya juga menjadi Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI 2014-Partai Golkar-nomor urut 4 untuk daerah pemilihan Solo, Sukoharjo, Klaten dan Boyolali. Sebagai caleg kesibukan saya dalam beberapa bulan terakhir ini sudah tentu melakukan kampanye. Metode kampanye saya adalah berusaha melakukan tatap muka dan dialog dengan sebanyak mungkin calon pemilih di dapil saya. Tujuannya untuk menyampaikan secara langsung visi dan misi politik saya sembari mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan diri memilih caleg berdasarkan program-program politik yang bukan berisi janji-janji kosong atau tawaran-tawaran materi. Saya termasuk caleg yang tidak begitu tertarik dengan penggunaan baliho, spanduk atau poster untuk memperkenalkan diri saya kepada masyarakat. Saya lebih tertarik bertemu langsung, bertukar pikiran dan mendengar sendiri kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang nantinya jika terpilih wajib saya terjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak pada masyarakat terutama di daerah pemilihan saya.

3) Menurut catatan harian kompas, kuota perempuan untuk pemilu legislatif tahun ini meningkat menjadi 32, 28 %. Bagaimana menurut pendapat anda ?

Pertama, menurut saya, kita perlu mengapresiasi fakta ini. Upaya melibatkan perempuan dalam politik menujukkan kecenderungan meningkat dan saya harap perkembangan yang positif akan terus terjadi.
Tapi, kedua, menurut saya kita perlu tetap bersikap kritis. Karena yang kita perlukan bukan saja soal menambah jumlah perempuan, melainkan kita juga menghendaki perempuan yang berkualitas. Mengapa saya merasa perlu menekankan hal ini karena berdasarkan pengalaman yang ada seringkali keterpilihan para perempuan tidak mencerminkan kualitas, track record atau pengalaman politik. Bisa jadi ini dilakukan sekedar untuk memastikan target kuota 30 persen. Atau yang lebih parah lagi perempuan yang terpilih adalah yang semata-mata berpenampilan menarik atau bahkan selebritas yang sejak awal dimajukan dengan kepentingan utama hanya untuk menggaet suara sebanyak mungkin. Artinya, bagi saya, peningkatan jumlah perempuan dalam dunia politik harus disertai dengan kualitas, track record dan pengalaman yang bisa dipertanggung jawabkan.
Hal lain lagi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana nanti perlakuan terhadap caleg perempuan jika kelak terpilih sebagai anggota parlemen? Lagi-lagi berdasarkan pengalaman, perempuan yang menjadi anggota parlemen tidak serta merta identik dengan perbaikan derajat kaum perempuan. Karena perempuan-perempuan yang menjadi anggota parlemen tersebut masih sangat rentan terhadap pandangan merendahkan, sikap dan tindakan melecehkan atau stereotip negatif yang dilakukan oleh sejawatnya yang laki-laki atau oleh masyarakat luas pada umumnya. Disini peningkatan kuota perempuan bagi saya harus dibarengi dengan perlakukan yang juga menghormati dan menghargai perempuan di parlemen
Akhirnya yang juga saya tunggu dan jika saya sendiri terpilih akan saya perjuangkan adalah peningkatan kuota seharusnya berkorelasi positif dengan perbaikan nasib semua perempuan di Indonesia.

4) Bagaimana tanggapan keluarga saat anda memutuskan dalam dunia politik ?
5) Seorang perempuan mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengurus keluarga dan mendidik anak. Bagaimana anda membagi waktu antara karir politik anda dan tanggung jawab anda dalam rumah tangga ?
6) Banyak perempuan yang terjun dalam dunia politik akhirnya bercerai karena kesibukan yang mendadak menjadi padat. Bagaimana menurut pendapat anda ?

(Saya akan menjawab sekaligus pertanyan No. 4, 5 dan No. 6.)
Secara garis besar, sekalipun sudah ada peningkatan kuota perempuan, masalah paling mendasar yang mempersulit perempuan terjun ke dalam dunia politik dan kalaupun sudah terjun bisa berperan optimal adalah budaya masyarakat yang masih bersifat patriarkis. Budaya ini selalu mengutamakan laki-laki, menganggap perempuan sebagai warga negara kelas dua, dan meyakini bahwa tugas perempuan yang paling mendasar adalah di rumah mengurusi keluarga dan anak (Pertanyaan No. 5).
Ketiga pertanyaan yang anda ajukan ini adalah jenis-jenis pertanyaan yang sangat “patriarkis”. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu ditanyakan karena ada semacam kepercayaan yang salah kaprah bahwa kodrat perempuan bukan terjun dalam dunia politik. Bukankah dalam dunia yang tidak patriarkis dan gender wise peran perempuan dan laki-laki sama? Bukankah laki-laki juga memiliki kewajiban yang sama untuk mengurusi keluarga, isteri dan anak? Mengapa pertanyaan-pertanyaan serupa tidak pernah ditujukan kepada caleg atau politisi laki-laki? Dan mengapa jika, misalnya, ada politisi perempuan yang bercerai (Pertanyaan No. 6) yang selalu disalahkan atau setidaknya ditanya-tanya adalah si perempuan, dan bukan laki-laki?
Politik di Indonesia akan menyaksikan peran perempuan yang lebih bermakna dan berdaya guna jika jenis-jenis pertanyaan seperti ini segera berhenti ditanyakan terus menerus.

7) Bagaimana menurut pendapat anda, banyak selebriti perempuan yang terjun dalam dunia politik, padahal mereka tidak punya latarbelakang politik ?

Pertama-tama, sudah tentu, mari kita pahami lagi makna politik dan terjun dalam dunia politik seperti menjadi caleg. Pada dasarnya, siapapun dia, artis maupun bukan artis, punya hak yang sama untuk menjadi caleg, tapi sepanjang anggota legislatif kita terima sebagai tugas mulia menjadi wakil rakyat yang tahu betul kepentingan masyarakat, memperjuangkannya menjadi kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya.
Persoalannya dengan para artis yang menjadi caleg, sekalipun tidak semua seperti ini, seringkali bahkan tidak tahu apa sebetulnya tugas utama seorang anggota parlemen, apa visi dan misi politiknya atau bahkan apa sebetulnya politik itu sendiri. Para selebriti ini lebih gawat lagi bisa jadi menjadi caleg karena secara salah kaprah menganggap dirinya tokoh hanya karena sering muncul di layar kaca atau papan reklame. Lebih gawat lagi jika para artis tersebut terjun dalam dunia politik hanya sebagai pemanis atau pendulang suara.
Bagi saya dampak yang paling serius dari kecenderungan ini adalah menjadi caleg atau anggota parlemen menjadi seperti “barang mainan” dan sesuatu yang “tidak serius”. Jika kita amati wawancara yang dilakukan terhadap beberapa caleg selebriti beberapa waktu belakangan betapa banyak yang bahkan tidak paham untuk apa sebetulnya dirinya menjadi caleg. Bukankah ini semacam penghinaan terhadap profesi anggota parlemen yang mustinya mengemban tugas mulia?

8) Menurut tradisi, kodrat perempuan itu 3M, masak, macak, manak. Bagaimana kodrat perempuan masa kini ?

Pertama, tradisi yang anda sebutkan sebagai kodrat perempuan inilah yang saya maksudkan dengan budaya patriarki di atas. Strategi utama budaya ini adalah menganggap perempuan (dan juga laki-laki) memiliki kodrat, yakni memiliki sesuatu yang sudah melekat pada dirinya bahakan sejak masih dalam kandungan. Bagi saya yang melekat dalam diri perempuan dan laki-laki sejak dalam kandungan hanya alat kelamin. Selebihnya perempuan dan laki-laki dibentuk oleh budaya dimana mereka tumbuh, berkembang dan menjadi dewasa. Karena itu tidak ada kodrat dan tidak ada yang statis dalam status dan peran perempuan dalam masyarakat. Semuanya berubah dan berkembang seiring perubahan masyarakat.
Hanya saja perubahan dan perkembangan masyarakat sering tidak berimbang. Sehingga bisa jadi ada kelompok masyarakat yang berbeda-beda dalam hal menerjemahkan dan memahami apa peran dan status perempuan dalam kehidupan sosial. Seringkali ini dipersulit jika ada kelompok yang mempertahankan keyakinannya pada “kodrat” perempuan dengan menggunakan alasan-alasan yang bersifat agamis atau adat istiadat. Sehingga membuat kelompok yang berpandangan lain mudah dituduh sebagai tidak paham agama atau tidak paham adat istiadat.

9) Apa nilai lebih, serta apa kekurangan kaum perempuan sebagai perannya sebagai anggota dewan ?

Seperti yang sudah saya sebutkan di bagian sebelumnya, salah satu nilai lebih dalam dunia politik dia akan mengembangkan cara yang khas dalam melihat persoalan. Seperti kita ketahui perempuan memiliki apa yang disebut dengan femininitas. Salah satu aspek pentingnya adalah kemampuan yang sangat besar untuk mengedepankan cara-cara non kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Dengan memiliki jumlah perempuan yang lebih besar dalam dunia politik saya mengharapkan politik kita akan lebih cenderung melahirkan wajah yang nir kekerasan.

10) Apa tips anda agar karir politik dan kehidupan rumah tangga dapat berjalan selaras ?

Lihat saja lagi jawaban saya untuk pertanyaan No. 4, 5 dan 6

Leave a Reply